Nama : Muhammad Dwi Juliansyah
Kelas : KM 19A
NIM : 0802519101

Livi Zheng Dan Kasus-Kasusnya




1.      Livi Zheng

Siapa itu Livi Zheng? Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang tema ini ktia harus mengetahui dulu siapa itu Livi Zheng. Livi Zheng adalah putri bangsa dari pasangan suami-istri Bpk. Gunawan Witjaksono atau akrab di kenal The Hok Bing, dan ibunya bernama Ibu Lilik Juliati atau Lili The Hok Bing. Livi merupakan putri Indonesia yang lahir di Malang pada tanggal 3 April pada tahun 1989.
Livi Zheng merupakan anak Indonesia yang beruntung mendapat kesempatan untuk melanjutkan studi kuliah nya di salah satu universitas di Amerika Serikat tepatnya di kota Washington yaitu University of Washinton. Dan setelah lulus dia melanjutkan studinya untuk mendalami ilmu di dunia film. Dia melanjutkan studinya ke University of Southern California School of Cinematics Art. Sudah bukan rahasia lagi bahwa universitas itu telah melahirkan berberapa sutradara hebat contoh nya George Lucas, Robert Zemeckis, dan Brian Grazer.
 
2.      Soal Kontroversi yang Mengatas Namakan Livi Zheng

Livi Zheng pernah membuat film pada tahun 2015 yang berjudul Brush With Danger yang bergenre Drama, Action dan Romance. Film ini menuai pujian dari seorang aktor internasional asal Indonesia yaitu Yayan Ruhian atau yang lebih sering di kenal dengan Mad Dog karna aksi hebatnya saat memerankan Mad Dog di film The Raid. Sayangnya film ini tidak mau atau mungkin tidak berani memamerkan jumlah penonton yang telah menonton film tersebut. Akhirnya para pengkritik film dan pengamat film mengandalkan opini mereka dan juga kadang melihat dari situs film seperti IMDB dan Rotten Tomatoes. Review dari situs tersebut menyebutkan rating film itu ada di 3.4/10.



Livi Zheng juga membuat film lagi pada tahun 2018 yang mengambil tema dari budaya Indonesia yaitu gamelan yang berjudul Bali : Beats of Paradise. Film ini bergenre Documentary yang bersinopsis Musik gamelan yang telah menyebar ke sebagian besar negara bagian di AS, tetapi sayangnya mulai menurun di tanah air. Wenten ingin meninggalkan sesuatu yang istimewa sebelum beliau pensiun dan kembali ke Bali. Secara kebetulan penyanyi pemenang Grammy, Judith Hill, sedang mencari suara khas untuk musik baru yang sedang ia komposisikan. Dia tertarik dengan musik gamelan dan pergi untuk membahas perpaduan gaya musik. Hill dan Wenten bekerja di studio mengerjakan "Queen of the Hill", sebuah lagu yang memadukan musik funk dan gamelan. Mereka memutuskan untuk membuat video klip yang diambil di Joshua Tree Desert, California Selatan.

 Dan seorang sutradara internasional asal Indonesia yaitu Joko Anwar juga menngatakan bahwa film yang memenuhi persyaratan untuk diikutsertakan ke ajang Oscar pun belum tentu memiliki kualitas yang baik. Ia mencontohkan film bertajuk Vampire Academy yang merupakan film kelas B. Beliau berkata "Film kalau misalnya in contention for Oscar, artinya eligible untuk Oscar memang script dan filmnya diminta. Bukan berarti filmnya secara kualitas up to Oscar standard and quality,"  tapi Livi Zheng menegaskan bahwa filmnya yang berhasil masuk seleksi nominasi Oscar karna memang memiliki kualitas yang memenuhi standar Oscar.


3.      Kesimpulan Film yang Ideal

Saya pribadi sangat menyukai film. Saya pun pernah membaut berberapa film pendek. Tapi saya tidak berani mengambil opini tentang film yang ideal. Saya akan mengutip kata-kata dari berberapa pembuat film terkenal. Tapi sebelum itu saya akan memberikan opini sedikit. Bagi saya film itu harus bisa menyampaikan emosi, isi, pesan, dan moral kepada penonton. Jika tidak bisa menyanggupi 4 elemen yang harus di sampaikan, maka bagi saya film itu gagal.
Bagi saya film yang di sutradarai oleh Livi Zheng adalah film yang ideal, buktinya film itu bisa di daftarkan di nominasi Best Picture pada ajang penghargaan Oscar. Apa yang membuat film itu menuai opini buruk? Pertama adalah Promosi yang Berlebihan mengakibatkan ekspetasi yang sangat besar dengan film tersebut. Membuat orang-orang yang menonton merasa kecewa karna tidak sesuai dengan ekspetasi bahkan adalah salah satu channel di situs youtube yaitu Nerd Review menunjukan rasa kecewa dengan berkata “ jangan kan standar Oscar ini mah standar FFI ( Festival Film Indonesia ) aja belum “. Film Brush With Danger ( 2014 ) “. Itu adalah opini saya.


4.      Industri Film Harus Seperti Apa

Saat ini Industri Perfilman Indonesia sudah sangat meningkat. Dilihat dari banyaknya film Indonesia yang di akui dan di kritik oleh pengamat film di luar negri. Jadi menurut saya saat ini Industri Film Indonesia sudah sangat stabil. Mungkin hanya lebih membahas lebih dalam tentang film yang moralnya biasa saja, contoh seperti kisah cinta. Ada ratusan film dengan kisah cinta yang berakhir sama, yang membuat saat ini film percintaan pasarnya mulai menurun, dan ceritanya jadi klise.

5.      Kesimpulan

Jika diambil untuk kehidupan, bahwa jangan kita itu melebih-lebihkan diri kita dengan apa yang sudah kita capai. Contoh Livi Zheng yang sekarang malah menjadi kontroversial. Tapi saya sedikit senang tentang kasus ini yang membuat dunia perfilman Indonesia jadi terlihat di publik.




Kasus livi zheng
by Rasya Azzahra

Livi Zheng seorang sutradara Indonesia yang membuat film bali beats of paradise yang diperbincangkan oleh banyak pihak. Ia beranggapan  filmnya ini sudah masuk kedalam holywood, film ini memang dibuat di Amerika, filmnya ia daftarkan di Oscar. Film dapat didaftarkan di Oscar dengan memenuhi beberapa syarat, salah satu syaratnya adalah film ini dibuat di Amerika. Film ini termasuk dalam film documenter. Film ini diundang oleh pihak walt Disney dan ditayangkan di walt Disney studio yang ditonton oleh beberapa eksekutif walt Disney. Livi zheng dikontrak sebagai konsultan oleh pihak walt Disney. Film ini juga dikritik oleh New York Times dan LA Times. Ia menyembunyikan jumlah penonton ia memberikan alasan bahwa hal hal seperti itu tidak pernah ia rilis dengan eksekutif produsernya. Ia menjelaskan bahwa film ini mengangkat kebudayaan Indonesia. Livi zheng dikritik habis-habisan oleh warganet. Ia juga salah satu founder production house. Di acara Q&A Metro TV ia menjelaskan tentang filmnya dan dipertanyakan oleh beberapa sutradara ternama di Indonesia. Kasus ini juga melibatkan orang tua livi zheng. Ia berkali-kali mengatakan bahwa film ini masuk kategori best picture Oscar. Livi zheng lulusan salah satu unibersitas ternama di Amerika yang melahirkan beberapa sutradara hebat mendunia. Menurut Joko Anwar, livi zheng tidak percaya dengan karya nya sehingga karyanya tidak bisa berbicara sendiri dan harus diberi embel-embel masuk nominasi Oscar dan ia meyakinkan bahwa film ini tidak masuk seleksi Oscar. Film ini masuk ke dalam madrid festival, ia mengatakan ini adalah satu-satunya festival yang ia daftarkan untuk filmnya diwaktu ia sedang kuliah.
Menurut john d rantau, livi zheng hanya terkenal terlalu besar orangnya daripada karyanya. Ia beranggapan bahwa semua film adalah best picture. Film ini dibahas oleh LA times dan New York Times dikritik dengan kurang baik. Tetapi menurut livi zheng ia tidak mempermasalahkan apapun kritiknya yang terpenting dikritik dan terkenal.
Film ini dikatakan bersaing dengan Avengers padahal menurut beberapa sutradara yang hadir itu tidak cocok dikatakan bersaing dengan Avengers. Tetapi livi zheng tetap berpendapat bahwa memang filmnya bersaing dengan Avengers. Film ini juga mengisahkan tentang biografi livi zheng.
Menurut saya film yang bagus tidak harus didaftarkan ke berbagai festival tetapi bisa diminati banyak orang dan bisa memberikan pesan yang dapat disampaikan melalui film.



Livi Zheng Dan Kasus-Kasusnya
By Rayann Rasyid




1.      Livi Zheng

Siapa itu Livi Zheng? Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang tema ini ktia harus mengetahui dulu siapa itu Livi Zheng. Livi Zheng adalah putri bangsa dari pasangan suami-istri Bpk. Gunawan Witjaksono atau akrab di kenal The Hok Bing, dan ibunya bernama Ibu Lilik Juliati atau Lili The Hok Bing. Livi merupakan putri Indonesia yang lahir di Malang pada tanggal 3 April pada tahun 1989.
Livi Zheng merupakan anak Indonesia yang beruntung mendapat kesempatan untuk melanjutkan studi kuliah nya di salah satu universitas di Amerika Serikat tepatnya di kota Washington yaitu University of Washinton. Dan setelah lulus dia melanjutkan studinya untuk mendalami ilmu di dunia film. Dia melanjutkan studinya ke University of Southern California School of Cinematics Art. Sudah bukan rahasia lagi bahwa universitas itu telah melahirkan berberapa sutradara hebat contoh nya George Lucas, Robert Zemeckis, dan Brian Grazer.
Livi Zheng juga ternyata sempat mendalami seni bela diri Wushu di sebuah sekolah bernama Shi Chai Hai Sports School di Beijing, saat ia berusaha 15 tahun. Dan sempat menjadi atlet wushu di Amerika Serikat dan memenangkan 26 kompetisi disana.

2.      Soal Kontroversi yang Mengatas Namakan Livi Zheng

Banyak kita tau bahwa akhir-akhir ini ada berita hangat yang muncul dari dunia perfilman Indonesia. Ada yang bilang prestasi, ada juga yang bilang hanya ingin di akui. Ada yang setuju ada juga yang tidak mau membenarkan isu itu. Kata seorang sutradara Indonesia yang sepak terjangnya sudah Go-International  yaitu Bpk. Joko Anwar bahwa “ Karya itu bisa berbicara “ dimana tidak seharusnya kita mempromosikan berlebihan terhadap karya kita, karan sebenarnya mereka pun bisa berkata. Mengapa saya berkata demikian? Kita akan bahas tema ini



Livi Zheng pernah membuat film pada tahun 2015 yang berjudul Brush With Danger yang bergenre Drama, Action dan Romance. Film ini menuai pujian dari seorang aktor internasional asal Indonesia yaitu Yayan Ruhian atau yang lebih sering di kenal dengan Mad Dog karna aksi hebatnya saat memerankan Mad Dog di film The Raid. Sayangnya film ini tidak mau atau mungkin tidak berani memamerkan jumlah penonton yang telah menonton film tersebut. Akhirnya para pengkritik film dan pengamat film mengandalkan opini mereka dan juga kadang melihat dari situs film seperti IMDB dan Rotten Tomatoes. Review dari situs tersebut menyebutkan rating film itu ada di 3.4/10.


Livi Zheng juga membuat film lagi pada tahun 2018 yang mengambil tema dari budaya Indonesia yaitu gamelan yang berjudul Bali : Beats of Paradise. Film ini bergenre Documentary yang bersinopsis Musik gamelan yang telah menyebar ke sebagian besar negara bagian di AS, tetapi sayangnya mulai menurun di tanah air. Wenten ingin meninggalkan sesuatu yang istimewa sebelum beliau pensiun dan kembali ke Bali. Secara kebetulan penyanyi pemenang Grammy, Judith Hill, sedang mencari suara khas untuk musik baru yang sedang ia komposisikan. Dia tertarik dengan musik gamelan dan pergi untuk membahas perpaduan gaya musik. Hill dan Wenten bekerja di studio mengerjakan "Queen of the Hill", sebuah lagu yang memadukan musik funk dan gamelan. Mereka memutuskan untuk membuat video klip yang diambil di Joshua Tree Desert, California Selatan. Video klip tersebut adalah kaleidoskop dari musik funk dan tarian tradisional Bali. Sekali lagi mungkin memang tradisi dari PH ( Production House ) Livi Zheng untuk tidak menyebarkan jumlah penonton ke public. Yang jelas film ini mendapat skor sebesar 3.0/10 dari situs review film bernama IMDB.


Film Bali : Beats of Paradise adalah film yang membuat nama Livi Zheng mulai sering di perbincangkan oleh pengkritik film, pengamat film bahkan pembuat film. Selain film yang dapat menggaet Judith Hill untuk main di film tersebut, film Bali : Beats of Paradise juga mengangkat tema gamelan yang mulai hilang di Indonesia. Sayangnya film ini jadis sering di perbicangkan bukan karna 2 hal itu, Melainkan karna perempuan yang sering di sapa Livi ini juga mengklaim bahwa filmnya masuk nominasi di ajang paling bergengsi sedunia yaitu Oscar Awards. Bahkan anak dari Bpk. The Hok Bing ini juga berkata bahwa filmnya masuk nominasi Best Picture, seperti yang ktia tahu bahwa nominasi tersebut adalah nominasi bergengsi. Dan dia juga berkata bahwa filmnya juga sempat bersaing dengan Avenger : Infinity War ( 2018 ).

Saking panasnya berita tersebut akhirnya berberapa tokoh di dunia perfilman Indonesia pun memberikan opininya kepada public salah satunya adalah John De Rantau. John De Rantau adalah seorang sutradara yang bisa dibilang dapat menjadi tokoh di dunia perfilman Indonesia karna partisipasi beliau dalam membuat film dapat di acungi jempol, salah satu karyanya adalah Obama Anak Menteng. Beliau sempat membandingkan dengan pengalamannya di film Denias, Senandung di Atas Awan yang diikutsertakan dalam seleksi Oscar untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik pada 2008. Kala itu, film ini melewati proses seleksi yang panjang.Beliau bertanya kepada Livi "Apakah Livi juga mengalami hal yang seperti itu, sehingga sudah Anda mengikutkan, Anda masuk di kategori apa? Karena enggak gampang masuk ke Oscar,"Livi Zheng kemudian menjawab bahwa filmnya mendapat undangan ke Oscar untuk kategori Best Pictures.Dan Livi menjawab "Film saya masuk kategori Best Pictures, kategori paling bergengsi di Oscar. Waktu itu film Brush With Danger diundang. Makanya, buat saya, dari ribuan film, film saya diundang untuk masuk bersama 300-an film lainnya merupakan suatu kebanggaan buat saya,".

Dan seorang sutradara internasional asal Indonesia yaitu Joko Anwar juga menngatakan bahwa film yang memenuhi persyaratan untuk diikutsertakan ke ajang Oscar pun belum tentu memiliki kualitas yang baik. Ia mencontohkan film bertajuk Vampire Academy yang merupakan film kelas B. Beliau berkata "Film kalau misalnya in contention for Oscar, artinya eligible untuk Oscar memang script dan filmnya diminta. Bukan berarti filmnya secara kualitas up to Oscar standard and quality,"  tapi Livi Zheng menegaskan bahwa filmnya yang berhasil masuk seleksi nominasi Oscar karna memang memiliki kualitas yang memenuhi standar Oscar.

Dan masih banyak lagi kontroversial yang hadir setelah Livi mengklaim filmnya masuk kenominasi di ajang penghargaan yaitu The Academy Awards Oscar. Tidak hanya opini buruk, masih banyak juga nominasi baik yang tidak saya lampirkan pada tugas ini.

3.      Kesimpulan Film yang Ideal

Saya pribadi sangat menyukai film. Saya pun pernah membaut berberapa film pendek. Tapi saya tidak berani mengambil opini tentang film yang ideal. Saya akan mengutip kata-kata dari berberapa pembuat film terkenal. Tapi sebelum itu saya akan memberikan opini sedikit. Bagi saya film itu harus bisa menyampaikan emosi, isi, pesan, dan moral kepada penonton. Jika tidak bisa menyanggupi 4 elemen yang harus di sampaikan, maka bagi saya film itu gagal.
Bagi saya film yang di sutradarai oleh Livi Zheng adalah film yang ideal, buktinya film itu bisa di daftarkan di nominasi Best Picture pada ajang penghargaan Oscar. Apa yang membuat film itu menuai opini buruk? Pertama adalah Promosi yang Berlebihan mengakibatkan ekspetasi yang sangat besar dengan film tersebut. Membuat orang-orang yang menonton merasa kecewa karna tidak sesuai dengan ekspetasi bahkan adalah salah satu channel di situs youtube yaitu Nerd Review menunjukan rasa kecewa dengan berkata “ jangan kan standar Oscar ini mah standar FFI ( Festival Film Indonesia ) aja belom “. Film Brush With Danger ( 2014 ) “. Itu adalah opini saya.
Bagaimana dengan opini para filmmaker yang memiliki karya yang di akui bagus. Sebelum saya melanjutkan kita harus membuka pikirin orang Indonesia bahwa film itu tidak hanya tentang bioskop atau theatre tapi banyak filmmaker indie atau independent yang tidak memiliki PH ( Production House ) yang terkenal atau memiliki link dengan para promotor yang sudah banyak juga link promosinya. Baiklah saya lanjut ke opini dari salah satu sutradara saya yang sudah menjadi idola saya semenjak saya menonton salah satu film beliau berjudul Pengabdi Setan ( 2017 ), beliau adalah Bpk. Joko Anwar. Joko pernah menyarankan para kreator film pendek di Indonesia untuk tidak hanya menjadi klise, juga jangan terlalu sopan. Berikut saya akan mengutip kata-kata dari Joko Anwar
 
" Dalam membuat film itu harus bandel jika dilihat dari sisi tema dan penyampaian. Jadi, jangan biasa-biasa saja,"

“ Sama seperti jika ingin menjadi penulis, harus banyak membaca. Maka, para pembuat film, baik panjang maupun pendek harus banyak menonton film. “
 
"Banyak banget orang bikin film pendek ceritanya itu-itu aja. Padahal, itu harus banyak menonton film. Dengan begitu, kita jadi tahu film itu ialah bahasa. Kalau kita mau belajar bahasa, kita harus mengetahui bahasa itu dengan nonton film,"
Dari kata-kata di atas merupakan perkataan dari Joko Anwar. Kita bisa mengambil kesimpulan bahwa bagi Joko kata Ideal buka kata yang bisa membuat film itu bagus, tapi elemen-elemen inovasi di suatu film lah yang membuat film itu bagus.

4.      Industri Film Harus Seperti Apa

Saat ini Industri Perfilman Indonesia sudah sangat meningkat. Dilihat dari banyaknya film Indonesia yang di akui dan di kritik oleh pengamat film di luar negri. Jadi menurut saya saat ini Industri Film Indonesia sudah sangat stabil. Mungkin hanya lebih membahas lebih dalam tentang film yang moralnya biasa saja, contoh seperti kisah cinta. Ada ratusan film dengan kisah cinta yang berakhir sama, yang membuat saat ini film percintaan pasarnya mulai menurun, dan ceritanya jadi klise.

5.      Kesimpulan

Jika diambil untuk kehidupan, bahwa jangan kita itu melebih-lebihkan diri kita dengan apa yang sudah kita capai. Contoh Livi Zheng yang sekarang malah menjadi kontroversial. Tapi saya sedikit senang tentang kasus ini yang membuat dunia perfilman Indonesia jadi terlihat di publik. Orang yang taunya film hanya seperti orang merekam dan di edit jadi tahu bahwa pembuatan film itu ternyata sangatlah rumit. Makanya wajar ada ratusan orang yang berkerja untuk film yang hanya berdurasi 1 setengah jam. Kesimpulan dari permasalahan ini adalah. Bahwa kita jangan melebih-lebihkan apapun yang kita miliki walaupun itu fakta, biarkan karya yang berkata. Seharusnya karya itu dapat membuat citra yang baik kepada sang pembuat karya tersebut, sedangkan di kasus ini malahan karya yang membuat citra Livi Zheng menjadi buruk




Perbandingan Media Koran Di Indonesia



            Seperti yang kita ketahui, maraknya Koran tetap selalu ada sejak dulu kala. Walaupun sekarang banyak tv yang udah bererdar di salurannya, Koran ttp selalu ada untuk menemani, dan menjadi supply untuk para orang tua agar selalu mendapatkan berita. Namun bagaimana jika Koran ternyata tidak semua koran memiliki tujuan yang sama, walaupun satu instansi. Kami akan membahas Koran Republika dan Kanal nya yaitu Dialog Jumat

1.    Perbandingan
Kali ini kami membandingkan Koran Republika dengan Kanal di Koran Republika yaitu Dialog Jumat, seperti yang kita ketahui bahwa Koran tersebut memang memiliki prinsip dan cara kerja yang berbeda, berikut adalah hasil penelitian kami.

A.  Target Utama
Target utama dalam traffic ini sangat berbeda antara dua belah pihak, dimana Republika mencari-cari dan menerbitkan berita yang kontroversial serta mengangkat tema isu-isu politik, atau bahkan berita berita yang fenomenal. Sedangkan kanal mereka yaitu Dialog Jumat lebih memilih mengangkat tema yang lebih berbau religi, seperti cerita-cerita yang memotivasi orang, menyebar luaskan agama islam dengan cerita dan karya karya yang di keluarkan oleh Kanal Dialog Jumat

B.   Iklan
Seperti yang kita ketahui bahwa Koran juga termasuk sebagai salah satu media massa yang dapat menghantarkan informasi yang cukup baik, maka banyak orang mulai dan suka mengiklankan produk mereka di berbagai macam Koran yang beredar di Indonesia. Dan Koran Republika adalah termasuk Koran yang memiliki traffic yang lumayan padat dan wajar jika banyak orang yang mau beriklan di Koran Republika. Biasanya karna republika adalah Koran yang tidak terpaku oleh satu statement, Koran Republika akan lebih mudah menerima iklan dan tidak terlalu memikirkan iklan tersebut, asal lolos sensor dan tidak menghina siapapun makany Republika dapat menerbangkan iklan tersebut. Berbeda dengan kanal yang dimiliki oleh Koran Republika juga yaitu Dialog Jumat, kebanyakan iklan di Kanal Dialog Jumat berisi tentang sesuatu yang religi, contohnya seperti iklan kitab atau iklan Qur’an, dan masih banyak buku-buku motivasi yang berbau religi di iklanlan di Kanal Dialog Jumat. Ada juga iklan untuk mengajak para orang tua agar mau mendaftarkan anak-anaknya ke pesantren, biar anak anaknya itu memiliki iman dan akhlaq sebagaimana di ajarkan di dalam islam.

C.  Target Pasar
Target Pasar setiap masing-masing Koran sudah jelas berbeda, seperti yang kita liat sehari-hari, orang yang membaca Koran Republika biasanya adalah orang tua sedangkan salah satu kanal dari Koran Republika yaitu Dialog Jumat biasanya di baca oleh ustadz-ustadz atau orang orang yang sangat suka dengan budaya islam. Dari Target Pasar kita sudah sangat bisa mendapatkan informasi yang valid, hal ini juga di perkuat karna Target Utama yang sangat berbeda antara setiap media.

2.    Kesimpulan
Jadi kami Kelompok 7 menyimpulkan bahwa setiap Koran memiliki kapasitas masing-masing. Karna tidak semua Koran memiliki tujuan dan kepentingan yang sama, walaupun sebenarnya satu instansi tapi memiliki kepribadian yang sangat berbeda. Oleh karna itu kami dapat menyimpulkan bahwa tidak semua Koran di gunakan untuk mengantar informasi yang menuju ke kemasyarakatan, tapi ada juga yang menuju ke segi religi.

3.    Segmentasi
Kami Menyimpulkan bahwa, Kanal dari Koran Republika yaitu Dialog Jumat, merupakan penambah daya tarik koran agar orang orang yang ingin membaca dan tertarik dengan budaya islam dapat membaca nya. Mengapa kami bisa bilang begitu? Karna pada dasarnya Koran Republika adalah koran yang menyajikan berita yang berbau politik dan isu isu terkait di Indonesia. Sedangkan Koran Utama yaitu Koran Republika adalah ayah dari semua kanal yang ada di bawahnya, dia yang mendapat halaman paling banyak dan isi berita yang lebih kental

4.    Penutup
Berikut adalah hasil penelitian dan observasi kami dari 1 koran yang sama tapi memiliki kanal yang berbeda, yaitu Koran Republika dan Kanalnya yaitu Dialog Jumat. Semoga dapat di mengerti dan mudah di cerna, dan juga dapat berguna untuk masyarakat dan orang lain. Aminn

5.    Daftar Pustaka

a.       Koran Republika Jum’at, 24 Februari 2019



Mengapa Minat Baca Di Indonesia Rendah

1. Kata Pengantar

         Sebelum kita mulai pembahasan kali ini, alangkah lebih baik nya kita mengetahui apa yang di maksud dengan Minat Baca, Minat Baca adalah suatu perhatian yang kuat dan mendalam disertai dengan perasaan senang tarhadap kegiaan membaca sehingga dapat mengarakan seseorang untuk membaca dengan kemauannya sendiri.

            Dan kita akan membahas Mengapa Minat Baca Di Indonesia Rendah kami melakukan berberapa observasi di masyarakat dan internet demi mendapatkan informasi yang valid



2. Survei


          Kami melakukan berbagai survei di mayarakat, kami melakukan wawancara terhadap penduduk sipil dan melakukan polling serta tanya jawab di media social, menurut hasil survey yang di lakukan oleh kami, banyak yang merasakan juga bahwa minat baca di Indonesia sangatlah rendah. Berikut adalah hasil survei kami
                 
   A. Mahasiswa

         Pertama-tama kita akan mengambil narasumber yang paling sering membaca buku yaitu Mahasiswa. Berikut adalah video wawancara kami dengan narasumber


·       Faktor yang menyebabkan kurang nya minat baca di indonesia
       
          

            Menurut narasumber kami, Minat baca di Indonesia sangat berkurang karna anak-anak di Indonesia lebih menyukai sesuatu yang bervisual, dan menurut dia anak-anak di Indonesia lebih senang membicarakan, atau mendiskusikan sesuatu, ketimbang membaca buku dan belajar sendiri, bisa di bilang kita sebagai anak Indonesia masih menginginkan sesuatu yang instant daripada harus membaca buku dan mengulang-ngulang kembali

·       Solusi
       
        Menurut narasumber kita, solusi agar kita lebih giat dan memiliki keinginan dalam membaca buku adalah dengan, kita harus lebih sadar akan kemampuan kita, kita harus lebih mau untuk belajar, agar tidak di bodohi di masa yang mendatang, karna semakin lama kita hidup, orang lain akan terus berkembang, dan kita harus sadar akan lingkungan kalau kita juga harus berkembang karna semakin dewasa, akan muncul pembicaraan-pembicaraan yang akan semakin berbobot dan kita harus paham akan topic pembicaraan tersebut agar kita tidak ketinggalan

·       Perasaan ketika mendengan bahwa Indonesia memiliki peringkat terendah kedua dalam minat membaca

        Narasumber merasa sedih, apalagi kata narasumber Indonesia adalah Negara berkembang yang seharusnya, harus lebih giat dalam mengembangkan Negara

   B. Social Media


        Di Social Media kita menggunakan system polling dan tanya jawab, kenapa kita memilih social media? Karna disini lah anak muda berkumpul, tempat yang paling mudah untuk mencari informasi, kekurangan dari social media adalah, minimnya penyaringan berita. Banyak berita hoax yang tersebar di media ini. Berikut adalah hasil survei kami


·       Polling


Jika dilihat dari grafik tersebut, banyak dari followers akun instagram @rayrsyd milik Muhammad Rayann Rasyid menunjukan bahwa, orang-orang merasa anak Indonesia tidak terlalu menggemari membaca


·       Faktor yang menyebabkan kurang nya minat baca di Indonesia


Kemarin kita juga sempat membuka tanya jawab di insta-storyI untuk mengetahui apa saja factor-faktor yang membuat mereka tidak gemar memabaca buku

Mayoritas jawaban dari mereka ada MALAS dan kurang nya SARANA DAN PRASARANA

C. Badan Peneliti


    Kami mendapat hasil survei ini dari internet, dan kami ringkas sedemikian rupa agar dapat mudah di petik inti dari berita dan hasil penelitian

·       Program for International Student Assessment ( PISA )


Menurut PISA Indonesia menempati posisi ke-62 dari 70 negara, PISA meneliti
bahwa tingkat literasi di Indonesia sanagt rendah di bandingkan dengan Negara lain. Responden dari penelitian ini adalah anak yang berusia 15 thn, jumlahnya ada 540 ribu anak. Tapi kita sebagai bangsa Indonesia ternyata lebih unggul di bandingkan Brazil.

·       Central Connecticut State University ( CCSU )


Tahun 2016 sebuah universitas di Amerika Serikat juga pernah melakukan penelitian yang sama. Dan hasil nya adalah Indonesia menempati posisi ke-60 dari 61 negara. Ada 5 sebab yang menjadi nilai dalam penelitian ini yaitu perpustakaan, surat kabar, pendidikan, dan ketersediaan komputer.

         


3. Kesimpulan

       Kesimpulan untuk tema mengapa minat baca di Indonesia rendah adalah karna masih adanya factor yang sangat bisa mempengaruhi minat baca anak-anak di Indonesia, dan belum menemukan solusi yang efektif untuk meng-counter faktor-faktor yang dapat mengurangi minat baca. Dan kita juga sudah sangat terbiasa dengan sesuatu yang instant dan bergambar, memang sesuatu yang bervisual lebih menarik ketimbang kata-kata, tapi bacaan atau buku dapat lebih banyak memuat informasi serta ilmu ketimbang kita bertanya dan hanya melihat yang bergambar saja. Berbeda dengan negara yang sudah cukup teknologi dan sistem negaranya yang dapat mendukung masyarakat nya untuk membaca buku, apalagi sekarang sudah ada teknologi bernama E-Book, yaitu sebuah aplkasi atau software yang membuat kita dapat membaca buku di handphone maupun laptop.

4. Penutupan
       Sekian pembahasan dari kami Kelompok 7 yang membahas tema Mengapa Minat Baca Di Indonesia Rendah?. Terima kasih atas perhatiannya, semoga bermanfaat apa yang sudah kita rangkum dan bahas.



5. Referensi